Siapa
disini yang ga tau apa itu pianika? Ah cupu
Pianika
itu alat musik paling gaul
Dia
hemat energi, ga butuh listrik sama sekali
Yang
dibutuhkan pianika untuk hidup cuma hembusan nafas kamu. Aku juga butuh hembusan
nafas kamu. Iya, Kamu.
Maaf
salah fokus
Jadi
pianika itu tinggal ditiup doang. Kalo ga kuat niup, ya colokin aja ke pantat
terus kentut kenceng-kenceng. Beres.
Pianika
ga cuma ditiup, tapi juga dipencet, kayak piano.
Piano
ini cowoknya pianika.
Pianika
dan Piano hidup bersama.
Mereka
punya banyak kesamaan, namun mereka juga punya perbedaan. Yang
cowok harus dicolokin. Yang cewek harus ditiupin.
Kalo
colokan piano dicolokin ke pianika itu namanya Zinah. Itu dosa.
Gue
lebih suka pianika, karena gue suka cewek.
Tapi
ceweknya gak suka sama gueeee..
Lupakan yang tadi.
Dulu
waktu SD gue sempet belajar pianika. Gue seneng banget pas udah bisa main
pianika dan (satu-satunya) lagu yang paling lancar gue mainin adalah lagu Ibu
Kita Kartini. Gue tunjukin bakat gue ke semua orang, ke ortu, ke semua sodara,
ke tetangga, ke orang-orang yang lewat di depan rumah gue. Mereka memandang
dengan cuek dan jijik, tapi gue tau sebenarnya dalam hati mereka mengagumi
bakat gue ini. Kesombongan di masa muda yang indah. Yeah!
Saking
senengnya gue sama pianika ini, gue sampai pernah berangan-angan untuk mencari
uang jajan sendiri dengan main pianika. Gue pengen main pianika untuk mengisi
acara Kawinan, Khitanan, atau orkesan. Ya, sejenis organ tunggal gitu. Gue juga
berniat menyisihkan uang hasil mengisi acara itu untuk diberikan kepada ortu
gue, agar mereka tau bahwa anaknya ini adalah investasi yang menguntungkan. Gue
bersyukur banget itu ga beneran terjadi dan sekarang gue sadar betapa absurdnya
jika ada anak SD yang ngisi acara kawinan dengan lagu Ibu Kita Kartini pake
pianika.
Handal
memainkan pianika merupakan senjata mematikan untuk menaklukan hati cewek. Terbukti
saat pelajaran seni budaya di SD, gue disuruh guru buat mainin salah satu lagu
nasional. Bagaikan membalik telapak tangan, gue sukses membawakan lagu Ibu Kita
Kartini di depan kelas tanpa cacat sedikitpun! Temen-temen cewek gue semuanya
teriak-teriak histeris. Gue menatap mereka dengan angkuh. Ternyata ada tikus
dalam kelas.
Salah
satu temen cewek yang cantik (sebut saja Raisa) terketuk hatinya untuk belajar
pianika dengan gue. Gue yakin ini cuma modus, sebenernya dia pengen deket
dengan gue. Gue memang selalu mempesona, hahaha. Singkat cerita gue suruh Raisa
mainin pianika gue yang selangnya belum gue cuci (air liur gue masih nempel,
hehe) dan dia mau-mau aja. Terus gue suruh dia mainin lagu Ibu Kita Kartini.
Tiap kali dia salah pencet, gue pegang tangannya buat ngebenerin. Sampai disini
masih terasa romantis.
Suasana
berubah menyebalkan bagi gue ketika temen gue (sebut saja Monyet) datang dan mainin
pianikanya. Ternyata dia bisa mainin lagu Demi Waktu nya Ungu! Sial! Si Raisa
terlihat lebih tertarik mendengarkan lagu galau dibanding lagu nasional. Pantes
bangsa ini ga maju-maju.
Raisa
akhirnya deket dengan si Monyet sialan itu. Gue patah hati. Gue udah ga tau
lagi apa tujuan gue hidup. Lebih baik gue mati. Tapi tiba-tiba gue ingat
sesuatu. Pianika gue belum dicuci! Itu artinya air liur Raisa masih nempel di
pianika gue. Akal licik gue bekerja. Gue bawa pianika gue ke bangku tempat
Raisa dan si Monyet duduk berdua.
Gue : “Raisa, kamu ga boleh deket
sama dia!” (sambil nunjuk si Monyet)
Raisa
: “Memangnya kenapa?”
Gue :
“Karena pianika ku belum aku cuci, air liur kita sudah menyatu. Itu artinya
kita udah ciuman secara tidak langsung. Lihat nih, pianika ini bekas kamu tiup.
sekarang aku emut.” (Ngemut pianika)
Raisa : “Kamu kok jorok banget, aku ga suka cowok jorok.
Kamu jahaaat!”
Gue :
“ Tapi kita sudah resmi jadi pasangan kekasih.”
Monyet : “Lho, kok bisa?”
Gue :
“Kamu ga pernah nonton film ya? Kalo cowok sama cewek ciuman itu artinya
pacaran! Ngerti?!”
Monyet : “Ga bisa gitu dong!”
Gue : “Diem lu Monyet, pergi sana!”
Monyet
lari sambil nangis, gue menang. Raisa pasrah, wajahnya sendu seperti ternoda.
Gue tersenyum puas.
Akhirnya
hari itu juga gue resmi jadian dengan Raisa. Besoknya Raisa ga masuk sekolah.
Ternyata dia pindah keluar kota. Nyesek banget. Emang bener kata pepatah, kalo
jomblo emang ga kemana.
Gue
masih kesel sama si Monyet, gara-gara dia hubungan gue sama Raisa kandas. Gue
bikin pembalasan. Saat istirahat pianikanya di tinggalin di kelas, gue masukin
kapur tulis yang udah dihancurin ke dalam selangnya. Pas dia niup, serbuk kapur
berhamburan dan sebagian masuk ke mulutnya. Dia jadi batuk-batuk dan gue
tertawa sendiri. Rencana jahat gue sukses.
Keesokan
harinya si Monyet ga masuk sekolah, dia sakit karena tersedak kapur.
Orangtuanya marah dan ia dipindah sekolah ke luar kota. Parahnya, dia satu sekolah
lagi dengan Raisa. Mereka pacaran dan hidup dengan bahagia selamanya.
Selamanya. Selamanya.. Dan tanpa gue.
Cerita
mengharukan ini berawal dari pianika dan gue memutuskan berhenti bermain
pianika.
Andri Widjanarko
No comments:
Post a Comment