Wednesday, December 25, 2013

Pianika...



Siapa disini yang ga tau apa itu pianika? Ah cupu

Pianika itu alat musik paling gaul

Dia hemat energi, ga butuh listrik sama sekali

Yang dibutuhkan pianika untuk hidup cuma hembusan nafas kamu. Aku juga butuh hembusan nafas kamu. Iya, Kamu.

Maaf salah fokus

Jadi pianika itu tinggal ditiup doang. Kalo ga kuat niup, ya colokin aja ke pantat terus kentut kenceng-kenceng. Beres.

Pianika ga cuma ditiup, tapi juga dipencet, kayak piano.

Piano ini cowoknya pianika.

Pianika dan Piano hidup bersama.

Mereka punya banyak kesamaan, namun mereka juga punya perbedaan. Yang cowok harus dicolokin. Yang cewek harus ditiupin.
 
Kalo colokan piano dicolokin ke pianika itu namanya Zinah. Itu dosa. 

Gue lebih suka pianika, karena gue suka cewek.
  
Tapi ceweknya gak suka sama gueeee..


Lupakan yang tadi.

Dulu waktu SD gue sempet belajar pianika. Gue seneng banget pas udah bisa main pianika dan (satu-satunya) lagu yang paling lancar gue mainin adalah lagu Ibu Kita Kartini. Gue tunjukin bakat gue ke semua orang, ke ortu, ke semua sodara, ke tetangga, ke orang-orang yang lewat di depan rumah gue. Mereka memandang dengan cuek dan jijik, tapi gue tau sebenarnya dalam hati mereka mengagumi bakat gue ini. Kesombongan di masa muda yang indah. Yeah!

Saking senengnya gue sama pianika ini, gue sampai pernah berangan-angan untuk mencari uang jajan sendiri dengan main pianika. Gue pengen main pianika untuk mengisi acara Kawinan, Khitanan, atau orkesan. Ya, sejenis organ tunggal gitu. Gue juga berniat menyisihkan uang hasil mengisi acara itu untuk diberikan kepada ortu gue, agar mereka tau bahwa anaknya ini adalah investasi yang menguntungkan. Gue bersyukur banget itu ga beneran terjadi dan sekarang gue sadar betapa absurdnya jika ada anak SD yang ngisi acara kawinan dengan lagu Ibu Kita Kartini pake pianika.

Handal memainkan pianika merupakan senjata mematikan untuk menaklukan hati cewek. Terbukti saat pelajaran seni budaya di SD, gue disuruh guru buat mainin salah satu lagu nasional. Bagaikan membalik telapak tangan, gue sukses membawakan lagu Ibu Kita Kartini di depan kelas tanpa cacat sedikitpun! Temen-temen cewek gue semuanya teriak-teriak histeris. Gue menatap mereka dengan angkuh. Ternyata ada tikus dalam kelas.

Salah satu temen cewek yang cantik (sebut saja Raisa) terketuk hatinya untuk belajar pianika dengan gue. Gue yakin ini cuma modus, sebenernya dia pengen deket dengan gue. Gue memang selalu mempesona, hahaha. Singkat cerita gue suruh Raisa mainin pianika gue yang selangnya belum gue cuci (air liur gue masih nempel, hehe) dan dia mau-mau aja. Terus gue suruh dia mainin lagu Ibu Kita Kartini. Tiap kali dia salah pencet, gue pegang tangannya buat ngebenerin. Sampai disini masih terasa romantis. 

Suasana berubah menyebalkan bagi gue ketika temen gue (sebut saja Monyet) datang dan mainin pianikanya. Ternyata dia bisa mainin lagu Demi Waktu nya Ungu! Sial! Si Raisa terlihat lebih tertarik mendengarkan lagu galau dibanding lagu nasional. Pantes bangsa ini ga maju-maju.

Raisa akhirnya deket dengan si Monyet sialan itu. Gue patah hati. Gue udah ga tau lagi apa tujuan gue hidup. Lebih baik gue mati. Tapi tiba-tiba gue ingat sesuatu. Pianika gue belum dicuci! Itu artinya air liur Raisa masih nempel di pianika gue. Akal licik gue bekerja. Gue bawa pianika gue ke bangku tempat Raisa dan si Monyet duduk berdua.

Gue                 : “Raisa, kamu ga boleh deket sama dia!” (sambil nunjuk si Monyet)
Raisa               : “Memangnya kenapa?”
Gue                : “Karena pianika ku belum aku cuci, air liur kita sudah menyatu. Itu artinya kita udah ciuman secara tidak langsung. Lihat nih, pianika ini bekas kamu tiup. sekarang aku emut.” (Ngemut pianika)
Raisa               : “Kamu kok jorok banget, aku ga suka cowok jorok. Kamu jahaaat!”
Gue                 : “ Tapi kita sudah resmi jadi pasangan kekasih.”
Monyet            : “Lho, kok bisa?”
Gue            : “Kamu ga pernah nonton film ya? Kalo cowok sama cewek ciuman itu artinya pacaran! Ngerti?!”
Monyet            : “Ga bisa gitu dong!”
Gue                 : “Diem lu Monyet, pergi sana!”

Monyet lari sambil nangis, gue menang. Raisa pasrah, wajahnya sendu seperti ternoda. Gue tersenyum puas.
Akhirnya hari itu juga gue resmi jadian dengan Raisa. Besoknya Raisa ga masuk sekolah. Ternyata dia pindah keluar kota. Nyesek banget. Emang bener kata pepatah, kalo jomblo emang ga kemana. 

Gue masih kesel sama si Monyet, gara-gara dia hubungan gue sama Raisa kandas. Gue bikin pembalasan. Saat istirahat pianikanya di tinggalin di kelas, gue masukin kapur tulis yang udah dihancurin ke dalam selangnya. Pas dia niup, serbuk kapur berhamburan dan sebagian masuk ke mulutnya. Dia jadi batuk-batuk dan gue tertawa sendiri. Rencana jahat gue sukses. 

Keesokan harinya si Monyet ga masuk sekolah, dia sakit karena tersedak kapur. Orangtuanya marah dan ia dipindah sekolah ke luar kota. Parahnya, dia satu sekolah lagi dengan Raisa. Mereka pacaran dan hidup dengan bahagia selamanya. Selamanya. Selamanya.. Dan tanpa gue.

Cerita mengharukan ini berawal dari pianika dan gue memutuskan berhenti bermain pianika.

Andri Widjanarko

Wednesday, November 20, 2013

DOKTER




Kedokteran Indonesia sedang berduka.

Kenapa?

Nilai UTS Biomol dan IMM gue jelek.

Ok, hentikan airmata kalian, yang jelek biarlah jelek. Kita fokus pada permasalahan utama.
Salah seorang dokter di Sulawesi Utara harus menerima hukuman 10 bulan penjara karena dituding melakukan kelalaian yang berakibat meninggalnya seorang pasien. Kenapa ini bisa terjadi? Apakah dokter yang bersangkutan sudah bertindak sesuai prosedur? Kenapa dia harus menerima hukuman tahanan? Kenapa nilai biomol gue ancur?!

Di masyarakat, dokter memang dituntut untuk menyembuhkan pasien  hingga penyakitnya hilang 100%. Padahal, tugas dokter adalah membimbing dan membantu penyembuhan pasien. Kesembuhan itu ada di tangan Tuhan. Kematian pun juga ada ditangan Tuhan. Tapi masyarakat tetap menganggap dokter itu selalu bisa menyembuhkan, kalau tidak bisa ya dokternya malpraktek. Simpel.

Sebagai contoh:

Pasien  : Dok, anak saya sakit
Dokter : Sakitnya seperti apa Bu?
Pasien  : Tangannya dingin, tubuhnya sulit digerakan, bibirnya membiru dan wajahnya pucat.
Dokter : Sering muntah dan demam?
Pasien  : Tidak pernah
Dokter : Bagaimana dengan makannya? Teratur?
Pasien  : Makannya susah, dia ga mau makan.
Dokter : Baik, saya periksa dulu ya. 

Beberapa menit kemudian..

Dokter : Bu! Anaknya memang sudah meninggal ya?!
Pasien  : Iya Dok, tolong sembuhin ya.
Dokter : Ya ampun Bu, saya ga bisa nyembuhin orang yang sudah meninggal.
Pasien  : Waaah.. dokter malprakteeeeek..!! Kembalikan anak saya dok! Saya tidak rela, demi Tuhaaan!
Dokter : BUNUH SAJA SAYA BU, BUNUH!!

Kematian memang tidak bisa dihindari. Walaupun dokter sudah melakukan apa yang ia bisa, jika memang takdirnya untuk meninggal, ya meninggal. Dokter tidak bisa berbuat banyak. Namun kasus seperti ini tidak boleh terulang kembali. Ini tanggung jawab dokter, yang disumpah mengabdikan diri untuk kemanusiaan dan mendapat gaji lebih rendah dari gaji buruh

Apa yang harus dilakukan para dokter agar kejadian ini tidak terulang? Tentu saja goyang Caesar, eh maaf maksudnya dokter harus sadar bahwa yang ditangani adalah keselamatan jiwa pasien. Dokter harus fokus dalam bekerja, salah sedikit nyawalah taruhannya. Dokter juga harus bertindak sesuai aturan dan prosedur. Inilah pentingnya belajar Etika dan Hukum Kedokteran serta pentingnya belajar biomol agar nilai ujian kalian ga hancur-hancur amat.

Lalu apa yang dilakukan Ibu Menkes kita yang cantik? Beliau sih gak senang (sewot) dengan dokter yang membunuh pasien. Tapi beliau ingin membunuh dokter yang mogok kerja sebagai aksi protes. Gimana tuh? Ga suka pembunuhan tapi pengen bunuh orang . Betapa lucunya negeri ini.


Tapi tenang, kita punya presiden yang sangat sangat bijaksana. Beliau pasti melakukan tindakan yang tepat, entah itu siaran live pidato keprihatinan, ngetweet pake hastag #GWSdokterAyu , atau nyiptain lagu galau buat dokter-dokter Indonesia. Ya, beliau selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Masih pengen jadi dokter? Ga usah, mending bikin album duet bareng Pak Presiden. Duitnya banyak.

                        Andri Widjanarko


Friday, October 25, 2013

Mama, Aku Harus Tinggi.



Hoosyoh… 

Judulnya ngenes ya? Iya
Oke, di awal perjumpaan kita kali ini gue harusnya menjelaskan dengan detail seberapa pendek badan gue. Tapi gue gak mau.

Intinya, gue merasa terintimidasi dengan tubuh yang tidak-cukup-tinggi-bahkan-untuk-ukuran-asia. Bukannya gak bersyukur dengan tubuh sehat yang diberikan Tuhan saat ini, tapi mencoba berbagi keresahan yang gue alami selama ini.

Yang Pendek Yang Baris Di Depan
Sejak SD sampai SMA peraturan ini selalu berlaku dalam dunia baris-berbaris. Gak ada masalah sih, tapi kalo kita baris di depan jadi ga bisa ikut ngerumpi bareng temen-temen lain, karena gampang keliatan guru. Jiwa presenter infotainment gue terkekang. Akhirnya? Gue ga tau gossip yang lagi nge-hits, dianggap kuper dan dikucilkan dari peradaban remaja modern.

Kamu Nonton Dulu Aja Ya..
Gue suka banget main basket. Ok gue ralat, gue suka banget ‘nonton’ orang main basket. Kenapa? Karena ga pernah dibolehin buat main. Alasannya beragam, dari yang cara kasar sampai halus, contoh:

-                “Aku boleh ikut main basket gak?”
“Kamu pendek. Kamu ga boleh main. Ini aku punya tulang, ambil ya!” *lempar tulang jauh-jauh* *gue ngejar tuh tulang sambil melet-melet*

-                “Aku boleh ikut main basket gak?”
“Kamu mainnya entar aja ya, nunggu tinggi dulu..”
Intinya, gue ga main.

-                “Aku boleh ikut main basket gak?”
“Bukannya aku nolak, tapi main basket itu harus pake sepatu basket bukan hi-heels, dasar pendek!”

-                “Aku boleh ikut main basket gak?”
“Kamu nonton dulu aja ya, ntar kalo kita udahan, kamu boleh main kok..”

-                “Aku boleh ikut main basket gak?”
“Maaf aku ga bisa. Kamu terlalu baik buat aku..”


Miskin Prestasi
Punya tubuh pendek memang susah meraih prestasi. Setiap lomba makan kerupuk, gue salalu kalah. Panitia lomba sengaja menggantung kerupuknya tinggi-tinggi. Huh dasar licik.

Biaya Tambahan
“Wah, celananya bagus nih”
“Iya, lo coba dulu aja”
“Sebenernya sih udah pas, tapi agak kepanjangan nih”
“Yaudah, bawa ke abang tukang jahit aja”
Alhasil keluarlah biaya tambahan buat ongkos motong celana yang kepanjangan ini. Gagal deh nabung buat biaya nikah.

Sehidup Se’matic’
Pengennya sih pake moge atau motor sport biar kelihatan macho di depan cewek-cewek, tapi apa daya kaki tak sampai. Kenapa produsen motor sport harus bikin motor yang tinggi sih? Kenapa?! Kenapa?!
Jadilah gue makin terpuruk dengan mengendarai motor matic ceper sepanjang hidup. Mau ganti motor paling mungkin ya odong-odong.

Aduh, gue jadi sedih. Pinjem bahumu buat nangis boleh gak?
                        Andri Widjanarko





Saturday, October 5, 2013

#Apasih



Permisi, ada orang disini?
Ehem, udah lama banget blog ini dianggurin. Mungkin kalo dia ini cewek gue, udah minta putus kali.
Jadi gini, gue bingung. Mau ngapain sekarang?
Bingung aja sampai segininya.
Ngomong2 soal bingung, gue jadi ingat lagunya Taylor Swift, You Bingung With Me . Halah.
Tapi Taylor Swift cantik ya?
Sebenernya gue cocok sama dia, gue ganteng, dia cantik. Tapi sayang, kami beda keyakinan. Lo ga pernah kan ngerasain sakit gara2 cinta yang terhalang Perbedaan Keyakinan? Perih men, Perih. Gue emang ga pernah bisa bareng dia…
*galau, nyalain shower, sampoan, nangis kejer, nyeret koper*
*ternyata tereliminasi dari AFI 2013*
Salah gue apa?
Gue bener2 bingung.
Bingung apa yang gue omongin saat ini.
Oia, gue daritadi gak ada ngomong. Gue ngetik.
Terus yg ngomong siapa? Jangan-jangan…
Udah ah, gue jadi takut.
Takut di php-in, takut dikecewain.
Tau gak rasanya kecewa?
Kecewa itu kayak saat lo udah ngebayangin betapa nikmatnya ngupil, eh pas mau ngupil, upilnya malah ga ada. Bikin badmood.
ah dasar upil, bisanya cuma bikin badmood. Coba sekali2 bikin BatMobile, kan keren bisa kayak Batman.
Eh tapi kalo upil punya Batmobile, namanya bukan upil lagi dong. Jadi Bat-Upil, saingannya Batman. Artinya Upil Kelelawar.
Segede apa ya upilnya kelelawar?
Btw, gue belom pernah liat kelelawar ngupil.
Mungkin kalo suatu hari gue dapet lampu ajaib dan dikasih 3 permintaan sama si Jin nya, yang pertama gue minta adalah ngeliat kelelawar ngupil secara langsung.
Yang kedua, gue minta iPhone, buat motoin kelelawar yg ngupil terus di upload ke Instagram.
Yang ketiga, gue minta semua followers gue nge-like foto gue tadi.
Eh, jatah 3 permintaannya udah abis ya? Sial, gue belom minta batmobile.
Gue terbawa suasana.
Oy suasana, jangan bawa2 gue dong!
Wait, bukan nya si Suasana udah meninggal ya?
Yang suka jadi sundel bolong itu kan?
Kok jadi serem gini?
Bukan, bukan Serem Sungkar. Itu mah artis.
Waktu kecil gue pengen jadi artis. Tapi apa daya, gue ga bisa akting.
Gue cuma bisa ngupil. Itu pun cuma kecil-kecilan.
Ya kalo lagi rame2nya bisa dapet 30-50 sehari, tapi kalo sepi mah dapet 10 aja udah Alhamdulillah banget. Ya lumayan lah buat nyambung hidup.
Kok hidup gue gini-gini amat ya?
Gue jadi tambah bingung.
Lo bingung juga kan?
You Bingung With Me.

Andri Widjanarko