Ehm, hello. Kali ini gue ga bakal
bahas apapun, tapi gue mau cerita ke kalian. Ceritanya sangat membosankan dan
datar, kalian ga bakal suka. Okeh, ini dia cerita gue
The Red Riding Hood And The Wolf
Dahulu kala hiduplah seorang
gadis kecil. Ya, sangat kecil, bahkan narator menggunakan Mikroskop Hyper Nano untuk
melihatnya.
Ok, lupakan yang tadi.
Gadis (yang
sangat) kecil itu selalu menggunakan kerudung merah pemberian neneknya. Iya, Dia
memang seorang liverpudlian. Ia juga sangat periang, setiap pergi bermain ia
selalu bernyanyi dan sesekali menari
sambil menikmati hangatnya sinar sang mentari dan alunan angin . Biasanya Ia
menyanyikan lagu ‘A Prophecy’ dari Asking Alexandria. Dan seketika badai
melanda.
Pada suatu
hari, Ia pergi bermain ke hutan, karena pada hari itu semua mall di kotanya
tutup. Sesampainya di hutan, Ia melihat ada diskon besar-besaran di Matahari
dept.store, akhirnya Ia memborong semua baju yang ada disana.
Lho? Bukannya
tadi semua mall di kotanya tutup? Ko masih bisa shopping?
Oh iya, kan
yang tutup cuma mall yang di kota, yang di hutan kan masih buka.
Eh tunggu,
emang di hutan ada mall?
Sekali lagi
lupakan. -___-“ Ayo kembali ke cerita.
Di tengah
hutan, Si Gadis Berkerudung Merah kebingungan. Ia tersesat dan tak tau arah
jalan pulang. Ia tanpa mu, butiran debuuu…
The Fact : Gadis
berkerudung merah sangat kecil. Bahkan narator menggunakan Mikroskop Hyper Nano untuk melihatnya.
The Question : Kalo Gadis berkerudung merah jadi butiran
debu, kecilnya kayak gimana? Ngeliatnya pake apa?
The Answer : ……
The Narrator : Plis. Lupakan
yang tadi. Kita lanjut ke cerita, ok?
Si Gadis berkerudung merah
masih di tengah hutan. Ia sendirian. Ia lapar. Ia ingin pipis. Ia ingin pipis
berdiri. Ia seorang laki-laki. Eh? Maaf, dua kalimat terakhir tidak sengaja
tertulis karena narrator kebelet pipis. Baiklah, kali ini akan mencoba lebih
konsentrasi.
Saat pipis, si Gadis
berkerudung merah mendengar suara sesuatu di balik semak-semak. Ia takut namun
penasaran. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk melihat apa yang ada di balik
semak-semak. Perlahan, Dia menjaga langkahnya agak tidak menimbulkan bunyi.
Belum sempat ia melihat ke dalam semak-semak, tiba-tiba keluar seekor unggas
besar mirip burung unta dan memiliki warna mencolok. Ia terkejut. Namun ia nampaknya
suka dengan unggas itu. (tunggu, lama-lama capek juga harus nulis
si-gadis-berkerudung-merah. Oke, untuk selanjutnya kita sebut saja si GBM)
“hai, kamu, kamu siapa?” sapanya
“ngiiiiiikngek….” Jawab unggas
itu
“oh, hai Kevin, senang berkenalan
dengan mu..” ujarnya
“ngiiiiiikngek….” Jawab unggas itu (lagi)
“mau kah kau ikut denganku? Aku
sedang mencari Mr. Fredricksen..”
“ngiiiiiikngek….” Jawab unggas itu (lagi lagi)
“bagus! Aku senang sekali…” Ia kegirangan
“ayo Kevin, kita berangkat!” sambungnya lagi
Namun Kevin tidak mau
bergerak. Tiba-tiba Kevin merogoh sebatang coklat di saku baju si GBM. Rupanya Kevin lapar. Namun dengan sigap si
GBM merampasnya lagi.
“apa sih, yang bikin kamu mau
coklat ini? Bingung ya?” Tanya si GBM
“eeemm.. Coklatnya yang lezat
kan? Kevin mencoba menjawab
“ehew..” sahut si GBM
“kacang mede nya yang gurih?” terka Kevin lagi
“eheew..” si GBM masih belum mau bicara
“atau…” kevin mulai pasrah
“stuju deh sama kamu, haha…” si GBM keluar toko dengan cowoknya.
Sebentar, ini kenapa jadi
iklan Silverqueen chunkybar? Kenapa Kevin bisa bicara pake bahasa manusia?
Kenapa hulk ga pake baju tapi ga pernah masuk angin? Kenapa?! KENAPAAAAA..?!
Ini mulai ga beres. Ayo
bereskan.
Nah, sudah beres.
The End.
Eh, engga ding, ceritanya
belum kelar hehe. Tadi Narrator terbawa suasana. Maklum habis pipis. Fantasinya
masih belum hilang *hah?
Sampai mana tadi?
Sampai jumpa lagi.
Narrator bercanda (lagi)!
Akhirnya setelah kenyang makan
coklat, mereka berdua melanjutkan perjalanan mencari Mr.Fredricksen. setelah
mengitari hutan cukup lama (10 tahun), mereka menemukan Mr.Fredricksen duduk
santai di teras rumah balonnya. Si GBM memperkenalkan Kevin kepada Mr.Fredricksen.
“Mr.Fredrickson, ini Kevin, peliharaan baruku. Kevin,
ucapkan salam kepada Mr. Fredrickson..”
“ngiiiiiikngek….”
sapa Kevin
“uh, makhluk aneh. Kenapa kau membawanya kesini?” ujar
Mr. Fredricksen ketus
“lihat lah, dia sangat lucu. Boleh kah dia ikut bersama
kita? Lagi pula aku bisa merawatnya..”
“tidak.”
“bolehkah dia ikut bersama kita?”
“tidak.”
“bisakah kau berkata lain selain
tidak?”
“coba tanya lagi..”
“bolehkah dia ikut bersama kita?”
“tidak.”
“arghh…”
Sepertinya aku pernah menonton
percakapan tadi. Ah sudahlah, lupakan.
Di sela percakapan mereka, terdengar
suara seseorang. Suara itu kian mendekat, dan tiba-tiba muncul sesosok… Anjing yang mirip serigala yang
sebenarnya memang serigala.
“Hai manusia, bolehkah aku
membawa unggas itu ke majikanku?” kata
anjing itu sambil menunjuk si Kevin
“hey, kau bisa bicara! Keren!”
kata si GBM takjub.
Eh sebentar, seingatku aku
pernah menonton film dengan cerita seperti ini. Ah mungkin hanya perasaanku
saja.
Tunggu, aku ingat. Ini seperti
film dari Pixar. Aku lupa judulnya. Hey, ini cerita apa sih sebenarnya? Gadis berkerudung merah itu kan bukan seperti
ni ceritanya. Seharusnya ia pergi kerumah neneknya dan bertemu serigala yang
menyamar sebagai neneknya.
Ok, kita pake alur cerita yang
sebenarnya *abrakadabra*
*TIBA-TIBA
MR.FREDRICKSEN DAN KEVIN LENYAP. YANG TERSISA HANYA
ANJING-YANG-MIRIP-SERIGALA-YANG-SEBENARNYA-MEMANG-SERIGALA-TAPI-BISA-BICARA
Si GBM bingung dengan apa yang ia alami saat
ini. Kenapa ia tiba-tiba bisa berduaan dengan
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara.
Padahal mereka bukan Mukhrim.
Entah mengapa
tiba-tiba si GBM ingin ke rumah neneknya. Padahal neneknya tidak punya rumah.
Entah mengapa
tiba-tiba si
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara
ingin memakan si GBM. Padahal ia baru
makan banyak di pesta sunatan temannya.
Si GBM pun
pergi ke rumah neneknya. Namun
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara
sudah lebih dulu sampai di rumah nenek si GBM. Ia memaksa nenek si GBM untuk menukar
pakaian dengannya. Karena si
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara
tidak punya pakaian, akhirnya Nenek si GBM pun terpaksa telanjang. (jangan
berkhayal macam2, ini sudah tua, sudah tidak seksi lagi). Nenek si GBM dipasung
dan dimasukan ke lemari oleh si
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara.
Dan ia berbaring di kasur dengan menggunakan pakaian nenek si GBM.
Si GBM sampai
di rumah neneknya. Ia mengetuk pintu, dan dipersilahkan masuk. Ia menyapa
neneknya.
“hai
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara,
kamu kok seperti nenek ku?” ucap si GBM polos.
“kenapa kamu
tahu kalau aku ini
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara
yang sedang menyamar menjadi nenekmu?”
“emm… feeling
ajah..”
“uh, aku gagal menyamar.
Baiklah, aku akan kembali ke wujud asliku..”
Tiba-tiba
anjing-yang-mirip-serigala-yang-sebenarnya-memang-serigala-tapi-bisa-bicara itu
berubah wujud. Ia berubah menjadi Jacob.
“kkkkkaaammuuu,
Jacob?” si GBM terperangah
“iya. Aku
mencari Bella Swan.” Jawab Jacob
Tiba-tiba
lemari terbuka. Nenek si GBM keluar dan (masih) bugil. Tubuhnya bersinar. Dan
ia berubah menjadi Bella Swan (masih bugil).
“aku disini
Jacob..” kata si nenek, eh Bella Swan
“nenek..?” si
GBM heran.
“ayo kita
menikah Bella..”
“yuks!”
Akhirnya, Jacob
dan Bella Swan Menikah.
Dan si GBM
menjad gila sejak kejadian itu.
Dan sebenarnya
nenek (Bella Swan) tidak punya rumah.
Lalu rumah
siapa itu?
-TAMAT-
Created
By Andri Widjanarko
ANDRI GILA
ReplyDeletecacad
ReplyDeleteRed riding hood, iklan silverqueen, up!, twilight..
ReplyDeleteahhh lupakan
nyampur jadi satu! assshhh, cukup menghibur HAHAHAHAHAHAHAH
aneeeh
ReplyDelete